Wisata

Travel Pattern Utama

Posted by:

 

TRAVEL PATTERN OBJEK WISATA

TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU

 

Travel pattern adalah peta perjalanan wisata yang dilengkapi dengan berbagai macam keterangan mulai dari tujuan wisata (destinasi) jenis wisata daya tarik wisata deskripsi objek wisata lingkup umum dan lingkup khusus objek wisata pendukung sarana & prasarana di tempat tujuan apa saja yang bisa dilakukan (dilihat didengar dikerjakan dibeli & dibawa) di tempat tujuan waktu yg terpakai di tempat tujuan hingga akomodasi yang tersedia di tempat tujuan.

Adapun travel pattern objek wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) ini dibuat berdasarkan "pintu masuk" ke TN BTS yaitu :

1.        Cemorolawang - Wonokitri  -> Pintu masuk Probolinggo

2.        Wonokitri - Cemorolawang   -> Pintu masuk Purwodadi

3.        Gubug Klakah - Cemorolawang - Wonokitri  -> Pintu masuk Tumpang

4.        Gubug Klakah - Ranupani - Gunung Semeru  -> Pintu masuk Tumpang

5.        Gubug Klakah - Ranupani - Ireng-Ireng  -> Pintu masuk Tumpang

6.        Ireng-Ireng - Ranupani - Gubug Klakah  -> Pintu masuk Senduro

Khusus untuk travel pattern yang dari pintu masuk Senduro hanya dibuat untuk jalur wisata Ireng-Ireng - Ranupani - Gubug Klakah saja karena berdasarkan kenyataan yang ada wisatawan yang masuk dari Senduro cenderung untuk memilih jalur wisata tersebut.  Hal ini dikarenakan selain wisatawan sudah terlalu lelah untuk memasuki  atau melanjutkan jalur wisata Ranupani - Cemorolawang - Wonokitri juga tidak cukup waktu (sudah terlalu sore atau kemalaman) untuk memasuki atau melanjutkan ke jalur wisata tersebut.

Adapun tempat-tempat tujuan wisata untuk sekitar jalur Cemorolawang - Wonokitiri atau sebaliknya adalah :

1.        Laut Pasir

2.        Gunung Bromo

3.        Gunung Batok

4.        Mata Air Widodaren

5.        Goa Widodaren

6.        Pura Agung Poten

7.        Watu Singa

8.        Watu Kuto

9.        Padang Savana Tengger

10.      Simpang Dingklik

11.      Gunung Penanjakan

Laut Pasir adalah hamparan pasir yang luas di sebagian wilayah kaldera Gn. Tengger hasil muntahan dan letusan Gn. Bromo yg meletus berkali-kali.  Laut pasir ini selalu gembur dan remah di musim kemarau dan memadat namun banyak terbentuk aliran sungai kecil di musim penghujan.  Oleh sebab itu hanya kendaraan double gardan (four weel drive) yang diperbolehkan melintasi kawasan kaldera Gn. Tengger ini.

Gambar 1.  Laut Pasir

 

Gunung Bromo adalah maskot dan primadona utama dari kawasan Gn. Tengger bahkan orang-orang awam sering menyebut Gn. Tengger sebagai Gn. Bromo saking terkenalnya.  Padahal Gn. Bromo itu sebenarnya adalah salah satu dari anak-anak Gn. Tengger yang muncul di tengah-tengah kaldera (bekas kawah) Gn. Tengger.  Gn. Bromo menjadi sangat fenomenal dan terkenal karena merupakan salah satu gunung berapi yang suka meletus berkali-kali dari zaman dahulu kala hingga sekarang selain itu pula kawahnya selalu dijadikan tempat pembuangan sesajen oleh masyarakat Hindu Tengger pada setiap Hari Raya Yadnya Kasada.

 Gambar 2.  Gunung Bromo

 


Gambar 3.  Kawah Gunung Bromo

 

 

Gambar 4.  Gunung Bromo di Malam Hari

Gunung Batok selain merupakan salah satu anak dari Gn. Tengger juga merupakan gunung termuda dari semua anak-anak Gn. Tengger karena hingga saat ini gunung tersebut belum pernah meletus seperti saudara-saudaranya yang ada di kawasan kaldera Gn. Tengger.  Objek wisata Gn. Batok ini selain pemandangan dari kawasan laut pasir juga untuk olah raga pendakian (hiking) ke puncak Gn. Batok.

 

 

Gambar 5.  Gunung Batok

 

Gambar 6.  Gunung Batok di Malam Hari

Pura Agung Poten adalah sebuah tempat peribadatan umat Hindu Tengger terbesar yang letaknya di antara Gn. Bromo dan Gn. Batok dan berada dalam kasawan TN BTS.  Pura ini biasa digunakan untuk upacara-upacara adat & keagamaan umat Hindu Tengger khususnya pada Hari Raya Yadnya Kasada.  Oleh karena itu tempat ini dijadikan sebagai objek wisata budaya/religi di TN BTS.

Gambar 7.  Pura Agung Poten

Watu Singa adalah seonggok batu hasil muntahan dari letusan Gn. Bromo di kawasan laut pasir Tengger di zaman dahulu yang bentuknya seperti seekor singa.  Di tempat ini biasanya wisatawan berfoto-foto dan atau membuat foto khusus dari keunikan bentuk batu muntahan Gn. Bromo ini.

Gambar 8.  Watu Singa

Padang Savana Tengger adalah hamparan padang rumput yang luas di dalam kawasan kaldera Gn. Tengger yg telah bersuksesi dari padang pasir menjadi padang savana.  Proses suksesi pada padang savana ini selalu terganggu baik secara alami oleh adanya gas belerang dari Gn. Bromo yang terus-menerus juga dari aktivitas masyarakat sekitar yang selalu membakari padang rumput tersebut di musim kemarau.  Namun demikian pemandangan di padang savana ini sangat unik dan indah sekali khususnya di musim penghujan (bulan Januari - April) karena suasananya serba hijau udaranya sejuk & segar jika dimusim bunga akan membentuk hamparan pada rumput yang beraneka warna mulai dari kuing oranye jingga merah dan ungu.  Jika wisatawan datang ke tempat ini pada musim kemarau (Juli - September) maka pemandangannya akan menjadi serba coklat (rumput kering) dan sebagian berwarna hitam bekas kegiatan pembakaran illegal makaransyarakat sekitar.

Gambar 9.  Padang Savana Tengger

Blok Adasan dan bukit adasan letaknya dalam kawasan padang savana Tengger lokasi ini sebaiknya dikunjungi pada bulan Maret - April pada saat sedang musim bunga.  Di musim bunga tempat ini menjadi sangat indah sekali yang dihiasi dengan bunga-bunga adas yang berwarna kuning.

 

 

 

Gambar 10.  Blok Adasan

 


Gambar 11.  Bukit Adasan

 

Bukit teletabis letaknya juga dalam kawasan padang savana Tengger dikatakan bukit teletabis karena bentuk bukit-bukitnya mirip dengan bukit-bukit yang ada di flim Teletubbies.  Namun demikian sebagaimana dengan padang savana Tengger waktu kunjungan yang terbaik dan terindah adalah pada musim penghujan (Januari - April).

 

 

Gambar 12.  Bukit Teletabis

 

Simpang Dingklik adalah suatu tempat persinggahan dan pertigaan antara Tosari - Penanjakan - Laut Pasir yang juga merupakan suatu tempat untuk melihat pemandangan ke arah kaldera Gn. Tengger.

 

 

Gambar 13.  Pemandangan dari Simpang Dingklik

Gunung Penanjakan adalah tempat tertinggi (2.700 m dpl) di bibir kaldera Gn. Tengger yang biasa dijadikan tempat pemandangan tertinggi dan terindah untuk melihat kawasan kaldera Gn. Tengger dan juga pemandangan Gn. Semeru.  Gunung Penanjakan ini juga merupakan maskot & primadona ke dua Gn. Tengger setelah Gn. Bromo karena selain bisa melihat pemandangan yang indah ke arah bawah juga bisa melihat & mengabadikan (membuat foto) matahari terbit (sun rise) dari tempat ini.

 


Gambar 14.  Sun Rise di Gunung Penanjakan

 

 

Gambar 15.  Pemandangan dari Gunung Penanjakan

 

Adapun tempat-tempat tujuan wisata untuk sekitar jalur Gubug Klakah - Ranupani - Gunung Semeru - Ireng-Ireng atau sebaliknya atau sebaliknya adalah :

1.        Coban Trisula

2.        Jemplang

3.        Ranupani

4.        Ranu Regulo

5.        Ranu Kumbolo

6.        Tanjakan Cinta

7.        Oro-Oro Ombo

8.        Cemoro Kandang

9.        Kalimati

10.   Arcopodo

11.   Puncak Semeru (Mahameru)

12.   Ireng-Ireng

 

Coban trisula adalah lokasi air terjun alami yang ada dalam kawasan TN BTS yang biasa dikunjungi selain untuk tujuan wisata juga untuk pendidikan dan penelitian.  Maka tidaklah mengherankan jika hampir setiap tahun selalu ada mahasiswa dan atau peneliti yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan penelitian di lokasi ini.

 

 

Gambar 16.  Coban Trisula

 

Jemplang adalah kawasan pertigaan dan tempat peristirahatan (shelter) antara Gubug Klakah - Padang Savana - Ranupani.  Di tempat ini biasanya para wisatawan membuat foto-foto yang indah ke arah padang savana Tengger

 

Gambar 17.  Jemplang di Pagi Hari

 

Gambar 18.  Jemplang di Siang Hari

 

Ranupani adalah sebuah Desa "Enclave" (pemukiman penduduk di dalam kawasan konservasi) dalam kawasan TN BTS.  Di sini pulalah letak sebuah danau alami yang bernama Ranupani yang letaknya persis di antara Desa Ranupani dengan Kantor Resort Ranupani TN BTS.

 

Gambar 19.  Ranupani

 

Ranu Regulo adalah danau alami yang letaknya bersebelahan dengan Ranupani atau kurang lebih 10 menit jalan kaki dari Ranupani.  Kondisi Ranu Regulo jauh lebih bersih dan lebih baik dari Ranupani yang makin hari makin memburuk karena dijadikan pembuangan limbah rumah tangga masyarakat Ranupani.  Di musim kemarau jika anda beruntung dalam perjalan dari Ranupani ke Ranu Regulo dan atau sebaliknya anda akan berjumpa dengan ayam hutan merah yang agak jinak (jinak-jinak merpati).

 

Gambar 20.  Ranu Regulo

Ranu kumbolo adalah danau alami yang terluas dan terindah dalam kawasan TN BTS bahkan airnya dapat diminum langsung tanpa harus dimasak terlebih dahulu saking jernih & bersihnya.  Wisatawan yang datang ke tempat ini hanyalah para pendaki Gn. Semeru saja karena sarana untuk meuju tempat ini hanya khusus untuk pejalan kaki saja.

 

 

Gambar 20.  Ranu Kumbolo

 

Selain danaunya indah Ranu Kumbolo ini juga selalu dijadikan tempat peristirahatan pertama bagi para pendaki Gn. Semeru dan atau dijadikan kawasan perkemahan baik oleh para pendaki maupun oleh para wisatawan yg khusus untuk tujuan akhir Ranu Kumbolo saja.  Kawasan Ranu Kumbolo ini juga merupakan kawasan yang terdingin (bisa mencapai suhu - 4 C0) dari seluruh kawasan TN BTS karena lokasinya merupakan suatu lembah tempat pertemuah beberapa arah angin dari Gn. Semeru.

 

Bukit kumbolo adalah sebuah bukit padang rumput yang indah yang terletak di belakang shelter Ranu Kumbolo yang merupakan bagian dari kawasan Ranu Kumbolo.

 


Gambar 21.  Bukit Kumblo

Tanjakan cinta adalah bukit pemisah antara Ranu Kumbolo dan Oro-Oro Ombo yang ada di sebelahnya bukit pemisah ini begitu tinggi dan cukup curam sehingga para pendaki khususnya para wanita sering kelelahan dan berpegangan kepada tangan kawannya yang laki-laki.  Oleh karena itu tempat ini dinamakan "tanjakan cinta" karena bayak pasangan pendaki Gn. Semeru yg setelah pulang menjadi "pacaran" atau tunangan di antara mereka.

 

 

Gambar 22.  Tanjakan Cinta

 

Oro-Oro Ombo adalah suatu hamparan pada rumput yang luas di sebelah Ranu Kumbolo yang merupakan cekungan di antara bukit-bukit di sekitarnya.  Sebagian kawasan Oro-Oro Ombo ini akan menjadi danau yang agak dangkal di musim penghujan namun di musim kemarau akan menjadi padang rumput kembali.  Waktu yang paling tepat untuk mendapatkan pemandangan yang paling indah di tempat ini adalah pada musim bunga (Maret - April) karena suasananya sangat beraneka warna oleh bunga-bunga yang berwarna putih kuning oranye jingga merah hingga ungu.

 

 

Gambar 23.  Oro-Oro Ombo

 

Cemoro kandang adalah kawasan hutan cemara (Casuarina junghuhniana) yang homogen (sejenis) yang populasinya banyak di kawasan Gn. Semeru antara Oro-Oro Ombo dan Kalimati.  Keunikan dari hutan cemara ini adalah walaupun hutannya nampak lebat dan rapat namun di lantai hutannya tidak selebat dan serapat seperti lantai hutan Tropis Dataran Rendah lainnya jadi sangat nyaman untuk dijadikan tempat perkemahan.

 

 

Gambar 24.  Cemoro Kandang

 

Kalimati adalah hamparan padang rumput yang luas terletak di antara Cemorokandang dan kawasan Arcopodo.  Kawasan ini biasanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan dan atau perkemahan  ke dua setelah Ranu Kumbolo oleh para pendaki Gn. Semeru.

 

 

Gambar 25.  Kalimati

Arcopodo adalah kawasan dan habitat hutan cemara (Casuarina junghuhniana) yang ke dua setelah Cemorokandang yang terletak di antara Kalimati dan kawasan tidak bervegetasi di leher Gn. Semeru.  Cemorokandang ini merupakan tempat peristirahatan dan atau perkemahan  ke tiga (terakhir) setelah Kalimati bahkan para pendaki selalu menginap di sini selama semalam karena pada pukul 00.00 - 03.00 para pendaki harus meninggalkan tenda-tendanya menuju puncak Gn. Semeru.

 

 

Gambar 26.  Arcopodo

 

Puncak Semeru (Mahameru) adalah "destinasi" (tujuan) akhir para pendaki di tempat ini mereka selain membuat foto-foto dengan kawan-kawannya juga foto-foto alam lainnya dari puncak Gn. Semeru tersebut.  Dari puncak Mahameru ini para pendaki harus segera turun kembali ke Arcopodo & Kalimati sebelum pukul 08.00 karena setelah pukul 08.00 akan ada badai pasir yang amat dahsyat.  Para pendaki Gn. Semeru yang hilang tersesat atau tewas adalah akibat mendaki atau menuruni puncak Gn. Semeru setelah pukul 08.00 dan kemudian terkena badai pasir yang dahsyat tersebut.  Akibat mereka terserang badai pasir tersebut mereka menjadi kehilangan orientasi bingung dan panik sehingga ada yang jatuh dari tempat yang curam & tinggi hingga tewas terpisah dari rombongan teman-temannya hingga tersesat ke tempat yang tidak dikenalinya.

 

 

Gambar 27.  Puncak Semeru (Mahameru)

Ireng-Ireng adalah kawasan Hutan Tropis Pegunungan yang kondisinya unik dan berbeda denga kondisi di kawasan TN BTS lainnya.  Dikatakan unik dan berbeda adalah suhu udaranya yang lebih hangat dari kawasan TN BTS lainnya dan potensi sumberdaya alamnya yang juga berbeda dengan yang ada di kawasan TN BTS lainnya.

 

 

Gambar 28.  Gerbang Masuk Ireng-Ireng

 

Ireng-Ireng ini tidak hanya untuk tujuan wisata saja tapi juga untuk pengamatan pendidikan dan penelitian.  Adapun kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan Ireng-Ireng ini adalah :

1.        Out bond tour dan atau perkemahan.

2.        Pengamatan pendidikan & penelitian potensi sumberdaya alam yang ada dalam kawasan tersebut.

3.        Pengamatan pendidikan & penelitian fauna (burung mamalia primata reptilia serangga dll).

4.        Pengamatan pendidikan & penelitian flora (tumbuhan obat tumbuhan hias anggrek epifit paku-pakuan lumut herba liana semak belukar perdu pohon dll).

5.        Pengamatan pendidikan & penelitian sosial masyarakat di sekitar hutan.

 

 

Gambar 29.  Hutan Tropis Pegunungan Ireng-Ireng

 

Demikian travel pattern ini dibuat semoga dapat berguna dan bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan dan menggunakannya.  Selamat berwisata semoga anda puas bahagia medapatkan ilmu & wawasan yang baru dan membawa kenangan yang indah.